PONTIANAK – Pandemi Covid-19 memberikan dampak bagi 208 penderita thalasemia di Kalbar. Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia, menyebabkan stok darah di PMI sering kurang.

Sementara itu, penderita thalasemia harus rutin melaksanakan donor darah setiap bulan. Mereka harus tetap ke rumah sakit untuk transfusi darah saat pemerintah menyarankan untuk di rumah saja.

Thalasemia adalah sebuah kelainan genetik yang merusak sel darah merah. Biasanya penderita akan melakukan pengobatan dengan cara transfusi darah secara rutin. Transfusi darah ini dilakukan secara rutin dengan maksud untuk menggantikan hemoglobin yang pecah sebelum waktunya pada penderita thalasemia. 

Ketua Perhimpunan Orangtua Penderita Thalasemia Indonesia (POPTI) Kalbar, Windi Prihastari mengatakan usia penderita thalasemia di Kalbar mulai dari bayi, anak-anak, remaja hingga dewasa. Kebutuhan darah masing-masing orang berbeda sesuai kondisi tubunya.

“Jadi untuk sekali transfusi saja untuk yang sudah dewasa tidak mungkin hanya satu kantong. Karena ketika hemoglobin dibawah rata-rata dia harus dikejar agar hemoglobin normal kembali dan tumbuh kembangnya maksimal,” ujarnya.

Ia mengatakan transfusi darah yang dibutuhkan tergantung hemoglobin. Dia mencontohkan, jika hemoglobinnya 9,5 rekomendasi dokter untuk umur 15 sampai 16 tahun memerlukan maksimal dua kantong darah.

“Anak penderita thalasemia kalau lebih dari satu kantong dia harus menginap di rumah sakit,” ujarnya.
Windi mengajak pendonor darah menjadi sahabat thalasemia atau thalasemia hero dengan menjadi pendonor darah tetap untuk 208 penderita thalasemia di Kalbar.

“Dalam situasi seperti ini ketersediaan darah cenderung agak kurang . Saya juga mengimbau kepada relawan pendonor darah seperti Komunitas Darah Segar dan Relawan Kemanusiaan lain agar selalu menyampaikan informasi kepada masyarakat untuk tidak takut mendonor darah saat adanya covid-19 ,” ujarnya.

Ia menyampaikan jangan takut bagi yang ingin donor darah karena tidak ada hubungannya donor darah dengan virus saat ini.

“Kita yang sehat yang sudah terbiasa donor mari tetap melakukan donor darah. Karena selain penderita tThalasemia penyakit lain seperti leukemia dan DBD juga perlu darah,” ujarnya.

Ia mengatakan adanya covid-19 sering terjadinya kekurangan Stok darah. Walaupun PMI juga memprioritas penderita thalasemia karena memang harus rutin setiap bulan.

“Keinginan kita dari POPTI Kalbar untuk mencari sahabat thalasemia agar setiap anak mempunyai pendonor darah tetap khususnya penderita thalasemia di kabupaten kota yang memang tidak bisa transfusi darah di RSUD masing-masing,” ujarnya.

Ketua Kominitas Darah Segar Pontianak, Saparia menggerakkan sukarelawannya untuk aktif berdonor. Terutama bagi mereka yang sudah tiba waktunya untuk berdonor.

“Anak-anak thalassemia, penderita lheukimia selalu sangat bergantung dengan darah buat tranfusi demi kelangsungan hidupnya. Bahkan pasien-pasien lain juga banyak yang terdunda untuk transfusi. Apakah kita harus membiarkan mereka? Apakah kita harus tutup mata dengan mereka?” katanya. (mrd)