PROKAL.CO,

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Barat mendorong perbankan untuk memperketat pengamanan internalnya. Hal ini menyusul terjadinya kasus penggelapan yang dilakukan oknum pengawai BNI Cabang Sambas. Tindak pidana ini telah membuat nasabah dirugikan hingga Rp2,5 miliar.

OJK  akan memberikan teguran kepada perbankan tersebut sesuai ketentuan yang berlaku. Bank pelat merah itu juga didorong melakukan evaluasi terhadap kelemahan sistem keamanan dan manajemen internal.  Pihaknya juga akan melakukan evaluasi terhadap temuan itu, dan akan memberikan sanksi mengacu aturan yang berlaku. Selama ini, pengawasan juga terus dilakukan secara berkala kepada perbankan.

“Terlebih perbankan merupakan industri dengan regulasi yang sangat ketat,” kata Kepala OJK  Kalbar, Moch Riezky F Purnomo. 

Lembaga ini pun terus mendorong perbankan konsisten menerapkan strategi anti fraud yang diatur dalam POJK nomor 39/pojk.03/2019 tentang penerapan strategi anti fraud bagi bank umum, yang terdiri dari empat pilar yakni, pencegahan, deteksi, investigasi, pelaporan, sanksi, serta pemantauan, evaluasi, tindak lanjut.

Pihaknya juga berharap, peran aktif manajemen juga menjadi bagian penting dalam penerapan strategi anti fraud. Manajemen diharapkan terus melakukan evaluasi, serta  langkah-langkah perbaikan. “OJK juga mengimbau masyarakat untuk waspada, tidak mudah percaya terhadap oknum pegawai bank, serta melakukan transaksi sesuai dengan prosedur yang ditetapkan sehingga menghindari peluang terjadinya aksi fraud,” tukas dia.

Ironisnya, kejahatan perbankan ini dilakukan oleh seorang pagawai magang lokal berinisial KA. Kapolres Sambas, AKBP Robertus B Herry AP memaparkan, kejadian dilakukan sejak Agustus 2020, di mana karena jabatannya memiliki kuasa untuk membuka brankas maupun mesin ATM. Saat itu, KA mengambil uang yang akan dimasukkan ke mesin ATM yakni sekitar Rp300 juta,” katanya.