PROKAL.CO,

Gubernur Kalbar Sutarmidji mengingatkan kepada Kabupaten Kubu Raya. Itu karena, angka kematian di daerah tersebut paling tinggi. “Kubu Raya itu hampir setiap hari di Rumah Sakit ada (meninggal). Ini karena Kubu Raya kurang melakukan tracing dan testing,” ujarnya.

Kabupaten Kubu Raya dikatakan dia jangan hanya berkutat pada masalah alat pemeriksaan Covid-19. Karena yang jelas diakui oleh dunia internasional serta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) adalah pemeriksaan tes usap RT-PCR.  “PCR itulah yang paling efektif, antigen hanya bisa membaca CT sampai angka 29-30, 31 tidak bisa baca. GeNose lebih parah lagi, jangan sampai hanya percaya hasil GeNose tahu-tahu hasilnya positif dan semakin (parah) ini,” papar.

Orang nomor satu di Kalbar itu sekaligus mengimbau kepada masyarakat jika sudah merasakan gejala yang menjurus ke Covid-19 agar segera memeriksakan diri. Seperti demam, flu, hilang penciuman dan lainnya. “Cepat ke Puskesmas terdekat untuk di-swab, swab itu tidak apa-apa paling sakitnya setengah menit, setelah itu selesai,” imbuhnya.  Kondisi selama ini, karena takut untuk dites usap, rata-rata pasien Covid-19 yang sudah masuk ke RS adalah mereka yang sudah parah. Akhirnya harus menggunakan alat bantu pernapasan. “Kubu Raya (tes usap) kurang. Kalau Sambas mulai meningkat, sejak saya tegur sekarang Sambas sangat banyak ngirim (sampel). Nah yang paling banyak juga Landak, Sanggau, Sekadau, banyak ngirim,” terangnya.

Meski dampaknya akan semakin banyak ditemukan kasus positif Covid-19 bagi daerah yang banyak mengirim sampel, dikatakan Midji hal itu lebih baik karena akan memudahkan dalam penanganan. Dengan deteksi dini, kasus yang ditemukan pastinya bukan lagi kasus yang kandungan virusnya tinggi. Selanjutnya kandungan virus yang rendah akan mudah untuk disembuhkan.  “Kalau kandungan virus rendah ada lima atau 10, itukan tidak mengkhawatirkan. Tinggal diberi obat dipantau. Kalau sudah tinggi (kandungan virus) itu yang kami khawatir,” pungkasnya. (pontianakpost)