PROKAL.CO,

Asam, pahit, dan manis adalah perpaduan khas rasa madu kelulut Sebaju. Kini produk dari Desa Nanga Kebebu, Kecamatan Nanga Pinoh itu kian dikenal. Seiring banyaknya permintaan, minat beternak lebah tanpa sengat ini pun terus tumbuh.

Aris Munandar, Melawi

Usai mendapat pelatihan beternak kelulut dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Melawi dua tahun lalu, muncul keinginan dari Sahbudin untuk mengaplikasikan ilmunya. Akhirnya terealisasi beberapa bulan kemudian, tepatnya Januari 2020. Sahbudin ingat betul bahwa rasa ketidakyakinan adalah yang paling dirasakannya saat itu. Pun dengan tiga temannya yang lain. Untung saja perasaan itu tak sempat membuat mereka urung niat.

Dua hari adalah waktu khusus yang mereka luangkan untuk mencari pohon-pohon yang di dalamnya disarangi oleh kelulut, lebah tanpa sengat yang bernama latin Trigona spp itu. Rasau Sebaju, hutan rawa gambut yang dimiliki oleh Masyarakat Hukum Adat (MHA) Khatab Kebahan dijadikan lokasi pencarian. Karena di batang-batang pohon di Rasau Sebaju masih sering dijumpai sarang kelulut.

Dibuatlah sarang dari papan kayu seukuran 15x20x20 cm. Sarang madu atau yang di sana disebut toping juga dibuat seukuran 30x15x40 cm. Serta panjang tiang dari permukaan tanah kurang lebih 1 meter.

Dua minggu usai kelulut dari hutan dipindahkan, dua sarang milik Sahbudin mengeluarkan madu. Sementara dua sarang lain yang dimiliki dua temannya memiliki perkembangan yang lambat. Namun dari sanalah, ternyata pertanyaan tentang apakah usai dipindahkan sarang kelulut tetap dapat dipindahkan dan menghasilkan madu terjawab.