Untuk mengantisipasi lonjakan kasus dan peningkatan kebutuhan tempat tidur perawatan pasien Covid-19, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat (Kalbar) telah menyiapkan Rumah Sakit (RS) darurat atau RS Lapangan. RS khusus pasien Covid-19 ini menggunakan gedung Unit Pelatihan Kesehatan (Upelkes) yang selama ini digunakan untuk fasilitas isolasi.

“Namanya Rumah Sakit lapangan. Jadi untuk isolasi tanpa gejala dengan CT (cycle threshold) rendah yang selama ini di Upelkes pindah ke LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan),” ungkap Gubernur Kalbar Sutarmidji, Rabu (7/7).

Kapasitas RS Lapangan di Upelkes dijelaskan Sutarmidji akan mampu menampung sekitar 100 pasien. Sedangkan gedung LPMP Kalbar yang beralamat di Jalan Abdul Muis, Tanjung Hulu, Pontianak Timur akan bisa menampung sekitar 250 orang. Di LPMP Kalbar akan menjadi tempat isolasi pasien Covid-19 tanpa gejala atau gejala ringan dengan nilai CT antara 12 sampai 25.

Midji sapaan karibnya memastikan, kebutuhan oksigen untuk RS Lapangan dan RS Soedarso juga tercukupi. “Untuk PMI (Pekerja Migran Indonesia) kami fokuskan di BPSDM . Rumah sakit daerah saya sarankan untuk bicara dengan pemasok (oksigen) mereka agar tetap lancar,” pesannya dilansir pontianakpost.co.id.

Ia berharap semua pihak fokus pada upaya penanganan Covid-19 dan terus mengejar cakupan vaksin hingga 70 masyarakat divaksin. “Saya mengingatkan, untuk Covid-19 kondisi kita sangat perlu diwaspadai. Angka positif aktif hampir 10 persen, itu artinya tingkat keterjangkitan semakin tinggi. Pagi ini (kemarin) Soedarso untuk tempat tidur Covid-19 terisi 90-an persen. Potensi varian baru sangat mungkin masuk ke Kalbar,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson menambahkan, saat ini tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) pasien Covid-19 se-Kalbar sebesar 69,69 persen. Untuk daerah tertinggi ada di Kota Pontianak dan Kota Singkawang. Masing-masing sebasar 85,91 persen untuk Pontianak dan 87,02 persen untuk Singkawang. “RSUD Soedarso sendiri sebesar 89 persen,” katanya.

Menurut Harisson peningkatan BOR sudah terjadi sejak dua hingga tiga minggu terakhir. Maka dari itu, untuk mengantisipasi RS jika sampai penuh, Dinas Kesehatan Kalbar telah diperintahkan oleh gubernur untuk membuka RS darurat atau RS lapangan. “Jadi RS darurat itu ditempatkan di Upelkes, sementara untuk isolasi bagi kasus konfirmasi dengan CT rendah kami tempatakan di LPMP, BPSDM atau tempat lain,” terangnya.

Untuk tenaga medis yang bertugas di RS darurat, Dinas Kesehatan akan memberdayakan tenaga kesehatan (nakes) yang selama ini bertugas di Upelkes dan dari UPT Pelayanan Kesehatan Paru. Jika jumlahnya masih kurang, maka ada kemungkinan akan direkrut relawan sebagai tambahan. “Secepatnya kami akan mengadakan sarana-sarana alat kesehatan maupun obat-obatan untuk mendukung RS darurat atau RS lapangan ini,” ujarnya.

Khusus RS darurat ini pengampunya adalah RS rujukan Kalbar atau RSUD Soedarso. Dimana Surat Keterangannya (SK) penetapannya sudah ditandatangani oleh gubernur Kalbar pada 1 Juli 2021. “Sekarang kami sudah mengoperasikan (RS darurat) tapi hanya untuk pasien-pasien dengan kondisi ringan dan sedang, sementara untuk pasien sedang berat itu kami rawat di RSUD Soedarso,” tutupnya. (bar)