Kremasi atau pengabuan jenazah adalah salah satu ritual penghormatan terakhir, yang lazim dilakukan warga keturunan Tionghoa. Selama masa pandemi, permintaan kremasi melonjak dari sebelumnya. Krematorium Yayasan Halim Pontianak misalnya, setiap hari setidaknya mengkremasi lima jenazah. Antrean pun tak terelakkan.

Arief Nugroho, Pontianak

Tambi, pria parobaya itu bergegas bangkit dari tempat duduknya setelah lima jam menunggu prosesi kremasi jenazah Chiu Chiung Lien (61), warga Taiwan yang meninggal dunia akibat penyakit kanker ganas yang dideritanya. Jenazah Chiu Chiung Lien tiba di Krematorium pukul 07.00 pagi dibawa oleh suaminya, Tjhai Ci Bun. 

Tambi yang sejak tadi menunggu, langsung mengambil peralatan, berupa skop dan alat pengait. Satu persatu tulang sisa pembakaran dikumpulkan dalam wadah yang sudah disiapkan. Matanya begitu jeli. Memilah antara abu sisa pembakaran jenazah dengan abu peti mati.

Siang itu, Senin (26/7), Pontianak Post berkesempatan mengunjungi pusat Krematorium Yayasan Halim Pontianak. Lokasinya berada di tempat pemakaman Marga Lim di Jalan Adi Sucipto, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.

Tampak dari kejauhan, beberapa karangan bunga terpasang di sekitar bangunan krematorium itu. Pusat Krematorium Halim terdiri dari dua bangunan besar. Bangunan pertama merupakan tempat untuk mengkremasi jenazah. Sedangkan bangunan kedua, yang berlokasi persis di belakang bangunan pertama, merupakan tempat menyimpan abu jenazah, sekaligus sebagai tempat penghormatan terakhir oleh keluarga jenazah sebelum dilakukan kremasi.

Hari itu, sedang ada penghormatan terakhir. Satu keluarga tengah melakukan sembahyang di hadapan jenazah sebelum dikremasi. Mereka tidak henti-hentinya merapal doa dan menyalakan dupa.

“Ini penghormatan terakhir sebelum nanti dikremasi,” kata salah satu dari mereka di sela-sela upacara penghormatan jenazah, Senin (26/7). “Rencananya nanti jam 3,” sambungnya.

Krematorium Yayasan Halim adalah satu-satunya tempat kremasi jenazah di Pontianak. Bangunan yang menyerupai aula itu dibangun pada 2005 atau 16 tahun silam. Meskipun berada di antara pemakaman Tiomnghoa, dan menjadi tempat pembakaran jenazah, tempat tersebut jauh dari nuasa seram.

Dinding bagian dalam Krematorium itu dihiasi kotak kayu menyerupai locker. Lengkap dengan foto dan nama pemiliknya. Menurut seorang petugas, kotak-kotak ini dulunya digunakan sebagai tempat penyimpanan abu jenazah. Tapi sekarang, tenpat penyimpanan abu jenazah sudah pindah di bangunan belakang.

Setidaknya tidak lebih dari 200 abu jenazah yang disimpan di situ. Jauh ke dalam ruangan, terdapat dinding pembatas terbuat dari kayu. Setiap dindingnya terdapat aksara Hanzi dan beberapa pengumuman penting dalam bahasa Indonesia.

Terdapat pula meja. Di atasnya ada beberapa guci penyimpanan abu jenazah lengkap dengan dupa, foto dan nama pemiliknya. “Abu ini belum diambil keluarganya,” kata Tambi menjelaskan.

Tambi sendiri merupakan satu dari beberapa petugas kremasi jenazah di Krematorium Yayasan Halim itu. Dia bekerja sudah lebih dari 15 tahun.

Di belakang dinding penyekat, terdapat dua kotak besi berukuran besar. Kotak itu adalah oven, tempat dimana jenazah dikremasi bersama dengan peti mati. “Setiap hari ada saja yang meninggal dan jenazahnya minta dikremasi,” katanya.

Hari ini setidaknya ada tiga jenazah yang sudah dikremasi. Menurutnya, sejak sebulan terakhir, selama pandemi Covid-19, permintaan kremasi jenazah meningkat. Bahkan setiap hari ada sekitar empat hingga lima jenazah yang harus dikremasi. “Mau tidak mau, ya harus mengantre,” bebernya.

Dikatakan Tambi, dirinya tidak jarang mendapat pesanan kremasi jenazah pasien Covid-19.  Hanya saja menurut dia, penanganan atau proses kremasi jenazah pasien Covid-19 sedikit berbeda. Kremasi jenazah pasien Covid-19 dilakukan oleh petugas tenaga kesehatan. Begitu pula dengan proses pemakaman, harus dilakukan dengan cara tertutup. “Untuk yang covid, rata-rata dari pihak keluarga langsung minta untuk dikremasi,” katanya.

Di sela-sela waktu menunggu, Tambi menjelaskan ikhwal prosesi kremasi jenazah di Krematorium Yayasan Halim itu.

Setiap kremasi jenazah, setidaknya membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima jam. Jenazah yang dikremasi dimasukan ke dalam oven bersuhu tinggi berikut dengan peti matinya.

Setelah proses pembakaran berakhir, abu sisa pembakaran jenazah akan bercampur dengan abu peti mati. Namun, bukan Tambi namanya jika dirinya tidak bisa membedakan antara abu jenazah dengan peti mati. “Warnanya lain. Kalau tulang biasanya berwarna putih,” katanya.

Kemudian, ia mengumpulkan satu per satu tulang belulang yang tersisa di dalam sebuah nampan. Tulang belulang itu kemudian dihaluskan sebelum dimasukan ke dalam guci.

Tjhai Ci Bun yang sejak tadi menunggu, menyaksikan secara langsung proses kremasi jenazah istrinya. “Ini adalah pilihan. Karena saya berencana membawa pulang abu jenazah istri saya ke Taiwan. Karena kebetulan beliau lahir di Taiwan,” katanya.

Setelah prosesi pengemasan abu jenazah, ia pun langsung membawa abu jenazah tersebut pulang. Ketua Yayasan Halim Pontianak, Lim Peng Thai membenarkan adanya antrean dalam proses kremasi jenazah di Krematorium Yayasan Halim. Setiap harinya, krematorium tersebut bisa mengkremasi empat hingga lima jenazah.

Jika dibandingkan dengan hari-hari biasa, lonjakan permintaan kremasi terbilang cukup tinggi. “Sekarang, setiap hari empat sampai lima. Di hari sebelumnya, paling banyak dua. Atau bahkan tidak ada,” katanya.

Lonjakan permintaan kremasi jenazah terjadi dalam sebulan terkahir di masa pandemi Covid-19. Menurut Lim Peng Thai, setidaknya sudah ada sekitar 80 jenazah pasien Covid-19 yang dikremasi di sana. “Satu bulan terakhir ini cukup meningkat. Sekarang saja kira-kira ada 80 jenazah pasien Covid-19 yang dikremasi,” terangnya.

Di tengah melonjaknya permintaan kremasi jenazah yang cukup tinggi, pihaknya  menjamin tidak sampai mengantre hingga berhari-hari. “Kalau pun ada, paling lama sehari atau dua hari. Tidak sampai berhari-hari. Karena kami juga harus menjaga mesin,” pungkasnya.*