Ekspor komoditas minyak Kelapa Sawit atau crude palm oil (CPO) dari Kalimantan Barat (Kalbar) meningkat tajam, seiring beroperasinya Pelabuhan Internasional Kijing, di Kabupaten Mempawah. Pajak ekspor yang dihasilkan nilainya juga fantastis.

“Realisasi ekspor minyak kelapa sawit mentah atau CPO dari Januari – Agustus 2021 sudah mencapai 490.083 ton. Dilihat dari nilai ekspornya tercatat sebesar USD334,4 juta,” ungkap Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan, Muhammad Munsif. Munsif mengatakan, kenaikan ekspor CPO Kalbar tidak terlepas keberadaan Pelabuhan Internasional Kijing yang sejak September 2020 melakukan uji coba. Kenaikan itu kian terasa sejak Januari 2021, ketika pelabuhan itu efektif beroperasi.

Dikatakannya, nilai ekspor minyak nabati ini hanya kalah dari komoditas bauksit dan turunannya yang selama ini mendominasi ekspor Kalbar. Namun apabila dilihat angkanya saat ini, ekspor CPO melalui pelabuhan tersebut baru 10 persen dari total produksinya. Meski baru 10 persen, namun kontribusi terhadap penerimaan pajak sangat besar.

“Meski masih sekitar 10 persen ekspor melalui Pelabuhan Kijing, namun nilai yang didapat Kalbar melalui bea keluar sudah mencapai Rp225 Miliar dan pungutan ekspor Rp945 Miliar, sehingga total pajak ekspor bagi Kalbar Rp1,2 Triliun,” katanya.

Karena itulah, pihaknya terus mendorong perusahaan memanfaatkan pelabuhan terbesar di Kalimantan tersebut. Terlebih saat ini, harga komoditas sawit tengah menunjukkan tren positif, baik itu tandan buah segar (TBS), CPO, maupun Palm Kernel Oil (PKO).

“Ekspor sawit langsung dari Port Kijing sudah dalam bentuk olahan CPO/PKO menjadi 10 jenis produksi turunannya yang siap menjadi bahan baku industri pangan, kosmetik, dan lain sebagainya,” paparnya.

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kalbar, Purwati Munawir mengatakan, industri sawit telah memberikan dampak yang signifikan bagi perekonomian nasional, dan provinsi ini sebagai salah satu daerah penghasil terbesar.

Meski begitu, menurutnya akan lebih baik apabila Kalbar tidak hanya menjadi daerah penghasil, namun juga menjadi daerah pengolah produk turunan kelapa sawit yang siap pakai. “Semakin hilir produk yang dihasilkan, daya saing kita semakin kuat,” ungkapnya diberitakan pontianakpost.co.id.

Purwati mengatakan, untuk menghadirkan industri hilir, memerlukan investasi yang besar. Karena itulah, industri hilirisasi ini memerlukan dukungan dari semua pihak, baik swasta maupun pemerintah. Utamanya pemerintah yang memberikan jaminan kepastian hukum serta penyediaan infrastruktur yang memadai.

“Industri hilir memerlukan investasi semakin besar, semakin memerlukan insentif, jaminan kepastian hukum, dan infrastruktur yang mendukung,” ucap dia.

Dia melanjutkan, Kalbar menjadi salah satu daerah penghasil sawit terbesar di Indonesia.  Kondisi geografis dan iklim di Kalbar menurutnya sangat cocok untuk ditumbuhi tanaman sawit. Kalbar punya sifat iklim yang relatif basah sehingga kondisi ini cukup ideal untuk tanaman kelapa sawit. Namun begitu, perubahan iklim yang terjadi di dunia, juga turut mempengaruhi kondisi sawit Kalbar.  (sti)