Masyur, calon pekerja migran Indonesia (PMI) asal Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini hanya bisa pasrah, setelah niatnya mencari penghidupan di negara jiran Malaysia, kandas. Ia bersama 17 calon PMI lainnya terciduk petugas saat akan menerobos masuk ke Malaysia, melalui jalan tikus di Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Jumat (8/10).

Ayah tiga anak ini rencananya akan mencari kerja di Malaysia sebagai buruh di perusahaan perkebunan kelapa sawit di Malaysia. Dengan harapan bisa mencukupi kebutuhan perekonomian keluarganya di kampung. “Kami di kampung sudah banyak utang. Makanya kami mau mencari kerja di Malaysia,” kata Masyur saat ditemui di Shelter Kantor Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2PMI) Pontianak. 

Masyur menceritakan, dirinya berangkat bersama seorang rekannya dari kampung halamannya di Lombok menggunakan pesawat menuju Pontianak, tanggal 3 Oktober 2021. Sesampainya di Pontianak, ia lantas melanjutkan perjalanan menggunakan jasa travel ke Kabupaten Sambas.

Sebelum tiba di Kalimantan Barat, Ia telah dihubungi oleh seorang toke di Malaysia. Orang tersebut yang mengatur perjalanan Masyur dan rekannya untuk bisa ke Kalbar dan Malaysia. “Saya dihubungi toke. Dia yang memberi kami petunjuk arah. Di mana kami harus menginap. Semua dia yang mengatur,” katanya. 

Setibanya di Sambas, ia bersama rekannya menginap di rumah seseorang. Kemudian berpindah di beberapa rumah lainnya, termasuk rumah salah satu temannya yang sama-sama pernah bekerja di Malaysia, beberapa tahun silam. Di Sambas, ia pun bertemu dengan beberapa orang calon PMI lainnya. Setelah beberapa hari menginap di Sambas, mereka pun berangkat menuju Malaysia menggunakan mobil. Di mobil itu, kata Masyur, terdapat Sembilan orang, termasuk sopir.

Namun dalam perjalanan, mobil yang ia tumpangi dihentikan oleh petugas. Masyur dan beberapa orang lainnya pun tidak bisa menunjukan dokumen, selain paspor. “Mobil kami dihadang dan diperiksa. Kami tidak punya dokumen, selain paspor. Terus kami dibawa ke sini,” katanya. Sebelumnya, Masyur memang pernah bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia di Malaysia, sebagai buruh di perkebunan kelapa sawit. Sepulangnya dari Malaysia, Masyur bekerja serabutan di kampung halamannya. 

Menurut dia, uang yang diperoleh selama bekerja serabutan itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan perekonomian keluarganya. “Uang yang saya dapat tidak cukup. Anak udah mau masuk sekolah. Belum lagi yang kecil, harus beli susu,” keluhnya.

Namun nahas, niatnya untuk mencari kerja di Malaysia itu tidak dilengkapi dokumen. Sehingga harus diamankan oleh petugas Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2PMI) Pontianak dan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kalbar. (pontianakpost)