Damianus Nadu, pria 60 tahun ini merupakan salah satu penjuang lingkungan dari kawasan hutan adat pikul-pangajid, Bengkayang. Pada Kamis (14/10), Nadu menerima penganugerahan tertinggi penyelamatan lingkungan dari pemerintahan Republik Idonesia.

Seleksi untuk mendapatkan penghargaan Kalpataru sangat ketat. Mulai dari tingkat kabupaten, provinsi sampai tingkat nasional. Dalam melakukan penilaian, tim juri juga meneliti administrasi hingga verifikasi lapangan. Para juri ini diisi oleh kalangan profesional, akademisi, pemerintah, dan jurnalis.

Menurut cerita Damianus Nadu, sejak awal tahun 80-an, perusahaan kayu unit usaha militer Zaman Orde Baru beroperasi di sepanjang perbatasan Malaysia-Indonesia PT Yamaker. Termasuk di Desa Sahan, Kecamatan Seluas. Damianus Nadu sudah berusaha mempertahankan hutan adat warisan leluhurnya di Dusun Malayang, Desa Sahan, Seluas, Kabupaten Bengkayang.

Tidak mudah bagi Nadu menghadapi perusahan milik militer. Dia harus berhadapan dengan aparat agar hutan adatnya jangan diambil oleh perusahaan. Sebab wilayah itu termasuk konsesi PT Yamaker. Subuh-subuh ia didatangi oknum aparat militer bersenjata lengkap yang akan menangkapnya.

Seluruh anggota keluarganya menangis, tetapi dia tetap tenang.  ”Bapak-Bapak mau mengambil sisa hutan kami, mandau dan lantak akan kami angkat,” cerita Nadu. Karena ia bersikeras melawan, akhirnya oknum aparat itu pergi begitu saja meninggalkannya.

Silih berganti perusahaan datang untuk mengambil kayu di kawasan hutan adat Pangajid-Pikul. Puncaknya Nadu memimpin komunitasnya dengan mengangkat senjata api lantak dan mandau menyerang fasilitas perusahaan supaya mundur dari kawasan hutan adat Pikul Pangajid.

Kawasan ini menyimpan kekayaan hutan alam Kalimantan. Ada 99 jenis pohon langka di kawasan itu, seperti meranti, tengkawang, teradu, ulin, gambri, dan lain-lain. Bahkan diameternya ada yang sampai tujuh meter. Hutan ini juga ditumbuhi 28 jenis jamur, puluhan jenis angrek, tanaman rempah, dan lain-lain. Tak cuma itu, di sini juga ada enam air terjun.

Kini Damianus Nadu merasa lega, karena telah mendapat kepastian hukum, setelah Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Republik Indonesia, Surat Keputusan  SK 1300/MENLHK-PSKL/PKYHA/PSL.1/3/2018, tentang Hutan Adat Pikul seluas 100 hektare.

Pada 2014, berbagai NGO seperti Seaclogi, Samdhana Institut, TFCA Programme dengan pendampingan INTAN, masyarakat di Kawasan Hutan Adat Pikul mampu mengolah buah tengkawang menjadi mentega/butter nabati alami. Dari awal pengelolaan hanya menggunakan peralatan sederhana, kini masyarakat setempat melalui Koperasi Tengkawang Layar sudah memilik pabrik yang representatif untuk mengolah buah tengkawang dan turunan produknya.

Perjuangan Damianus Nadu dan kawan-kawanya membuahkan hasil.  Pemerintah Republik Indonesia melaluli kementerian lingkungan hidup dan kehutanan menganugerahkan Kalpataru, penghargaan tertinggi bagi penyelamatan lingkungan hidup di Indonesia.

Surat Keputusan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: SK.476/MENLHK/PSKL/PSL.3/8/2001 menetapkan Damianus Nadu sebagai penerima Kalpataru Tahun 2021.

Menurut Damianus Nadu, penghargaan ini sungguh luar biasa. “Saya mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung perjuangan kami selama ini dalam menjaga Kawasan Hutan Adat Pangajid-Pikul.  “Prestasi ini akan menjadi pemicu kami agar lebih semangat dalam menjaga kawasan hutan adat,” katanya. (mrd/*r)