Turunnya batas harga tertinggi pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction) termasuk pengambilan tes usap menjadi Rp300 ribu didukung banyak pihak. Satu di antaranya Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji.

Bahkan sudah sejak tiga bulan lalu Sutarmidji mengharapkan harga tes pemeriksaan Covid-19 tersebut turun. Mengingat Kalbar masih cukup ketat mensyaratkan pelaku perjalanan mengantongi hasil RT-PCR negatif. “Penurunan harga PCR itu bagus, saya dari awal sudah menghitung dan saya sudah bilang ke Kepala Dinas Kesehatan itu sebenarnya bisa di bawah Rp300 ribu dan alhamdulilah memang bisa,” katanya kepada awak media, Kamis (28/10).

Apalagi ia menilai pemilik laboratorium swasta tentu sudah mendapatkan keuntungan yang cukup selama ini. Terutama terkait investasi alat RT-PCR yang memang harganya tidak murah. Harga alat tersebut mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah. “Alat tersebutkan investasinya sudah lama, sejak harga (tes PCR) Rp900 ribu. Mungkin (pemilik lab) sudah lebih dari balik modal dan mendapatkan keuntungan,” terangnya.

Untuk saat ini, lanjut dia, tentu alat RT-PCR yang harganya mahal, tak perlu dihitung lagi sebagai modal. Pemilik alat hanya tinggal memikirkan komponen-komponen pemeriksaan yang dibutuhkan. 

“Itu masih bisa bagus keuntungannya. Bahkan salah satu laboratorium di Kota Pontianak sudah melaporkan ke saya dengan harga Rp295 ribu,” ujarnya. Harga Rp300 ribu menurutnya merupakan batas harga tertinggi, jika perlu dan memungkinkan ia berharap lab-lab yang ada di Kalbar bisa memberikan harga lebih murah lagi.

“Tapi kalau ada yang di atas itu kami berikan tindakan. Bahkan laboratorium saat ini sudah ada di bawah harga batas tertinggi yang ditetapkan pemerintah,” tutupnya. 

Dari pantauan Pontianak Post, sejumlah laboratorium swasta di Pontianak kompak menurunkan harga tes PCR. Sebut saja Laboratoratorium Sakura yang kini membanderol tes PCR dengan harga Rp295 ribu. Demikian pula Laboratorium Kanazawa yang menurunkan harga PCR seharga Rp295 ribu.

Pemilik Laboratorium Sakura Pontianak Dhea Larasasti menyatakan, pihaknya mendukung keputusan pemerintah. Untuk itu Laboratorium Sakura kini melayani tes swabs PCR hanya Rp295 ribu dengan hasil yang dapat diketahui di hari yang sama. Seperti diketahui harga tersebut sudah di bawah harga yang ditetapkan pemerintah untuk wilayah luar Pulau Jawa.

Ia menjelaskan, Laboratorium Sakura sendiri beroperasi di Jalan Ahmad Yani, persis bersebelahan dengan Universitas Muhammadiyah. Saat ini Laboratorium Sakura juga melayani layanan Drive Thru yang letaknya di komplek Auditorium Untan, Jalan Ahmad Yani. Di sana masyarakat tak perlu lagi turun dari mobil untuk pengambilan sampel tes usap RT-PCR.

“Ini kami lakukan untuk mendukung pemerintah menekan penyebaran Covid-19 di Kalbar. Selain itu, Sakura juga membantu masyarakat untuk mengantisipasi sejak dini kemungkinan datangnya gelombang ketiga pandemi di Indonesia,” pungkasnya.

Salah satu warga Doni (28) juga menyambut baik turunnya harga pemeriksaan tes usap RT-PCR. Menurutnya harga pemeriksaan Covid-19 tersebut memang seharusnya bisa ditekan semurah mungkin. Apalagi RT-PCR menjadi golden standar pemeriksaan Covid-19 dan paling akurat.

“Harusnya bisa lebih murah, jadi pemeriksaan atau pencegahan penularan tetap jalan baik, warga pun dimudahkan karena murah,” ucapnya. Apalagi menurut Doni saat ini rata-rata syarat perjalanan, selain sudah divaksin tetap harus negatif RT-PCR. Dengan harga yang murah harapannya masyarakat mulai bisa melakukan aktivitas perjalanan lebih leluasa. Selanjutnya berdampak pada peningkatan geliat ekonomi.

“Dulu saya sempat merasakan naik pesawat harga PCR masih jutaan, sekarang pastinya jauh lebih meringankan kita,” katanya singkat. Penurunan harga tes swab PCR disambut baik pengguna pesawat terbang. Warga Pontianak, Khairul Umam mengaku bersyukur adanya penurunan harga ini.

“Sangat bersyukur, meski masih dirasa berat tapi sudah lumayan, karena harga awalnya sejutaan, lebih mahal dari harga tiketnya,” jelas dia. Meski demikian, Umam berharap pandemi Covid-19 cepat berlalu, sehingga pria yang sedang menuntut ilmu di Jakarta ini tidak dipusingkan dengan ongkos yang tinggi. “Biasanya kan cuma harga tiket doang, nah sekarang harus nambah biaya PCR lagi,” jelasnya.

Dalam sebulan, Umam pernah delapan kali naik pesawat untuk pulang pergi. Kondisi ini, kata dia membutuhkan biaya yang tidak sedikit. “Iya kalau hanya sekali dua kali tidak terasa memberatkan, kalau aktivitasnya lagi padat. Pulang pergi jadinya kan beban biayanya jadi tinggi,” ulasnya.

Harga PCR turun juga disambut baik Junaidi. Meski masih dinilai mahal, tetapi lebih baik dari harga sebelumnya. “Harganya sudah lumayan, walaupun tetap memberatkan, tetapi lebih baik dari harga sebelumnya,” kata dia. Harga terbaru ini, kata dia lebih murah dari harga tiket pesawat. Berharap harga bisa lebih turun lagi. “Kalau bisa sih harganya turun lagi, agar lebih meringankan untuk yang mobilitasnya naik pesawat tinggi,” pungkasnya. (bar/mrd)