Bencana banjir di Sintang menyebabkan 77 gardu PLN mengalami gangguan. Dari total gardu terdampak, sebanyak 16 gardu sudah berfungsi normal, sedangkan 61 lainnya masih padam. Pihak PLN terus melakukan perbaikan di lapangan dengan memperhatikan faktor keselamatan petugas.

Peristiwa banjir di Kabupaten Sintang ini terjadi sejak 21 Oktober 2021 lalu. Banjir melanda setelah hujan ekstrem mengguyur sehingga debit air Sungai Kapuas dan Melawi meluap. Tak hanya itu, pada bagian hilir, pasang laut juga terjadi sehingga aliran sungai terhambat dan banjir bertahan hingga kini.

BNPB masih berada di lokasi untuk memonitor kondisi lapangan dan pendampingan posko penanganan banjir yang menerjang 12 kecamatan. Adapun keduabelas wilayah administrasi yang terdampak yaitu Kecamatan Kayan Hulu, Kayan Hilir, Sintang, Binjai Hulu, Tempunak, Kelam Permai, Sei Tebelian, Ketungau Hilir, Sepauk, Dedai, Serawai dan Ambalau. 


BANTUAN

Bencana banjir yang merendam Kabupaten Sintang, sejak tanggal 21 Oktober 2021 menggugah kepedulian banyak pihak, baik pemerintah maupun masyarakat umum. Mereka terdorong untuk terlibat dalam menyalurkan bantuan demi mengurangi beban warga yang terdampak banjir.

Satu di antaranya adalah SWS (Solidaritas Warga Sintang) yang bermarkas di Canopy Center Sintang. Sejak dua pekan lalu, kafe yang terletak di Jalan YC Oevang Oeray, Desa Baning Kot, Kabupaten Sintang ini membuka layanan dapur umum, tempat pengungsian, pengisian air bersih, dan layanan kesehatan dasar bagi korban banjir.

Penanggung Jawab Canopy Center, Ireng Maulana mengatakan, terbentuknya SWS (Solidaritas Warga Sintang) dilatarbelakangi oleh keprihatinan melihat situasi bencana banjir Sintang, yang hingga saat ini belum juga surut. Menurut Ireng, semua pihak perlu berkontribusi dalam penanganan korban banjir.

Berangkat dari pemikiran itulah, Canopy Center yang sebelumnya merupakan kafe, sekaligus penginapan disulap menjadi dapur umum dan posko relawan banjir. “Awalnya kami mendistribusikan bantuan 100 bungkus makanan siap saji dari Rumah Zakat kepada korban banjir di Desa Ladang. Dari situ kemudian berlanjut hingga sekarang,” katanya.

Saat ini, dapur umum Canopy Center mampu membagikan 300 bungkus nasi per hari kepada warga korban banjir.  “Untuk lokasi pendistribusiannya dinamis, tidak ada lokasi tetap. Tergantung permintaan dan kebutuhan warga,” lanjutnya.

Selain dapur umum, relawan di bawah naungan SWS juga mendistribusikan bantuan lain yang masuk, seperti mi instan, beras, selimut, dan obat-obatan. 

“Terus terang, dari awal kami tidak membuka donasi. Ajaibnya, bantuan itu selalu masuk, baik berupa barang maupun uang tunai,” bebernya. Sementara untuk pengungsian, lanjut  Ireng, Canopy Center dihuni setidaknya 10 jiwa. “Mereka menempati kamar secara gratis yang sebelumnya digunakan untuk pengimapan,” katanya. (arf)