Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat (Kalbar) melalui Satgas Covid-19 turut mewaspadai penularan varian baru Corona B.1.1.529 atau Omicron yang berasal dari Afrika. Caranya dengan memperketat pintu masuk ke provinsi ini termasuk di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) dan sepanjang perbatasan.

Gubernur Kalbar Sutarmidji mengungkapkan, sampai saat ini penerapan tentang protokol kesehatan (prokes) dan syarat-syarat perjalanan di Kalbar masih berlaku sama. Setiap orang yang ingin masuk ke wilayah Kalbar tetap wajib mengantongi surat negatif tes RT-PCR. Termasuk pintu masuk dari luar negeri ia memastikan harus ketat.

“Kita di Kalbar ini sangat kompleks, lebih mudah menjaga Bandara Soekarno-Hatta dibandingkan perbatasan Kalbar. Batas Kalbar itu 976 kilometer, pintunya mungkin ratusan. Pintu resmi memang hanya tiga, tapi pintu tak resmi itu ratusan,” ungkapnya, Senin (29/11).

Bahkan, lanjut dia ada sekitar 400 kilometer panjang perbatasan yang kewenangannya bukan pada TNI-Polri. Yakni di kawasan perbatasan yang masuk dalam hutan lindung. Di sana hanya bisa dimasuki oleh polisi kehutanan sebagai yang berwenang.

“Pertanyaan kami, berapa besar jumlah polisi kehutanan untuk mengamankan 400 kilometer. Sabu saja itu banyak yang masuk sampai ratusan kilogram, apalagi hanya orang yang masuk. Kita tahu Malaysia varian (Covid-19) apapun sudah ada, itu yang dikhawatirkan,” ujarnya.

Bahkan di tengah kasus Covid-19 yang semakin menurun di Indonesia, Kalbar sempat menyumbangkan kasus tertinggi dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang masuk. Untung saja hal itu masih bisa dikendalikan dan ditangani dengan baik. “PMI yang pulang dari Malaysia itu yang kami khawatir. Bahkan ada yang CT 14-nya itu tinggi,” ucapnya.

Untuk itu, menurutnya harus ada peningkatan pengawasan di perbatasan. Dalam hal ini Midji sapaan karibnya sudah meminta PangdamXII/Tanjungpura sebagai Kasatgas Covid-19 khusus perbatasan, untuk lebih memperketat keluar masuk orang di perbatasan Kalbar-Sarawak. Selain itu akan ditempatkan satu lagi mobile PCR bantuan dari Kemendagri untuk kawasan perbatasan.

“Pak Mendagri akan membantu satu lagi mobile PCR yang akan kami tempatkan di perbatasan. Kalau (PLBN) Entikong sudah ada, saya akan tempatkan di Aruk. Supaya pemeriksaan cepat, tidak dibawa ke Pontianak lagi,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson menambahkan, strategi tetap menjaga pintu masuk Kalbar, serta pintu perbatasan baik jalur legal maupun ilegal, menjadi penting untuk mencegah masuknya varian Omicron. Varian yang dikabarkan empat kali lebih menular dibanding varian delta itu memang harus diantisipasi. “Sekarang lewat PLBN sudah dipegang KKP dan Satgas Khusus Perbatasan di bawah Pangdam,” katanya.

Selain itu kebijakan secara nasional dijelaskan dia, sudah ada perubahan SE Satgas Nasional Nomor 23 Tahun 2021 tentang Perjalanan Pada Masa Pandemi Covid-19. Lantaran adanya ancaman masuk dan menyebarnya virus B1.1.529 maka warga Indonesia yang baru pulang atau masuk ke Indonesia harus menjalani beberapa hal.

Pertama bagi orang yang mempunyai riwayat 14 hari terkahir melakukan perjalanan ke daerah yang dekat dengan Botswana, Afrika Selatan dan Hongkong wajib sudah divaksin ketika masuk ke Indonesia. Jika belum divaksin maka harus langsung divaksin di tempat yang disediakan pemerintah. Di samping itu, mereka juga harus menjalani karantina selama 14 hari.

Aturan yang sama juga berlaku bagi orang yang mempunyai riwayat 14 hari terakhir melakukan perjalanan dari negara yang secara geografis dekat dengan komunitas varian baru B1.1.529 seperti Anggola, Zambia, Zimbabwe, Malawi, Muzambik, Lesoto dan Eswatini.

“Kalau dari luar negeri itu, tapi seperti di Kalbar yang masuk dari Sarawak, Malaysia, maka akan dikarantina tujuh hari. Jadi di hari keenam di-PCR lagi,” pungkasnya.

WHO Prediksi Omicron Bakal Mengglobal

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan dunia bahwa virus corona varian Omicron kemungkinan akan menyebar secara internasional dan menimbulkan risiko global yang “sangat tinggi”.  Lonjakan infeksi diprediksi dapat memiliki “konsekuensi parah” di beberapa wilayah.

“Omicron memiliki jumlah mutasi lonjakan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata WHO pada Senin. “Risiko global secara keseluruhan terkait dengan varian baru sangat tinggi.”

Badan PBB itu mendesak 194 negara anggotanya untuk mempercepat vaksinasi kelompok prioritas tinggi dan untuk mengantisipasi peningkatan jumlah kasus dan memastikan rencana mitigasi.

Hingga saat ini, tidak ada laporan kematian terkait varian Omicron. Penelitian lebih lanjut juga diperlukan untuk menilai kemampuan Omicron bertahan dari perlindungan vaksin.

“Meningkatnya kasus, terlepas dari tingkat keparahan, dapat membebani sistem pelayanan kesehatan dan dapat menyebabkan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Dampaknya pada populasi yang rentan akan sangat besar, terutama di negara-negara dengan cakupan vaksinasi yang rendah,” kata WHO.

WHO, dalam panduan terbarunya, menegaskan kembali bahwa negara-negara harus menggunakan pendekatan berbasis risiko untuk menyesuaikan regulasi perjalanan internasional.

“Munculnya beberapa mutasi lonjakan protein dalam domain pengikatan reseptor menunjukkan bahwa Omicron sepertinya memiliki kemungkinan tinggi untuk lolos dari pertahanan tubuh/antibodi,” menurut panduan WHO.

Varian ini pertama kali dilaporkan ke WHO pada 24 November dari Afrika Selatan, di mana infeksi telah meningkat tajam. Sejak itu, varian tersebut telah menyebar ke seluruh dunia. Kasus-kasus baru ditemukan di Belanda, Denmark, dan Australia, bahkan mendorong lebih banyak negara untuk memberlakukan pembatasan perjalanan dan berusaha menutup diri.

Jepang pada Senin mengumumkan rencana untuk menutup perbatasannya bagi pelaku perjalanan asing, menyusul tindakan serupa oleh Israel.

Omicron Berkaitan Dengan HIV

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmidzi menyebutkan varian baru Covid-19 jenis Omicron (B 1.1.529) berkaitan dengan infeksi human immunodeficiency virus (HIV).

“Kasus terjadinya varian baru ini didapatkan pada orang dengan status HIV yang belum mendapatkan vaksinasi dan juga yang sudah mendapatkan vaksinasi,” katanya dalam webinar Hari AIDS Sedunia 2021 yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin (29/11).

Ia mengemukakan, varian Omicron banyak dilaporkan pertama kali di Afrika Selatan.

“Dari briefing yang disampaikan oleh WHO kemungkinan besar varian ini muncul dikarenakan kita tahu Afrika Selatan itu sebagian besar adalah orang dengan HIV,” katanya.

Ia menambahkan varian baru Covid-19 dari Afrika Selatan itu hampir sama dengan varian yang juga berasal dari Afrika Selatan lainnya, yaitu varian Beta yang memberikan pengaruh besar terhadap penurunan efikasi vaksin.

“Ada dua varian yang berasal dari Afrika Selatan yang saat ini tercatat sebagai variant of concern itu adalah varian Beta dan varian Omicron,” katanya.

Dalam rangka mencegah masuknya varian baru Covid-19 itu, Nadia mengatakan, pemerintah telah mengeluarkan larangan perjalanan dari Afrika Selatan, Botswana, Lesotho, Eswatini, Mozambique, Malawi, Zambia, Zimbabwe, Angola, Namibia, dan Hong Kong ke wilayah Indonesia. Sementara Warga Negara Indonesia (WNI) yang kemudian melakukan perj alanan 14 hari sebelumnya atau tinggal, itu masih bisa kembali ke Indonesia, tapi melakukan karantina selama 14 hari,” katanya.

Sedangkan WNI yang dari luar negeri di luar negara-negara yang masuk daftar pelarangan itu, disampaikan, melakukan karantina menjadi tujuh hari dari sebelumnya hanya tiga atau lima hari.

“Semua spesimen positif dilakukan pemeriksaan genom sekuensing, terutama negara-negara yang sudah melaporkan berupa kasus konfirmasi maupun kasus yang sifatnya kemungkinan,” demikian Siti Nadia Tarmidzi. (bar/ant)