Kenaikan harga komoditas minyak goreng (migor) masih berlanjut. Pada November 2021, komoditas ini menjadi penyumbang inflasi terbesar di Kalimantan Barat (Kalbar). “Sebelumnya masih dapat Rp13 ribu per liter. Sekarang itu harganya Rp17-22 ribu. Itu juga susah dapat minyak yang harganya Rp17 ribu,” ungkap Silvi, warga Kota Pontianak, Rabu (1/12).

Diberitakan pontianakpost.co.id, kenaikan harga tersebut sudah dirasakannya sejak lebih dari satu bulan yang lalu. Semakin kesini, menurutnya harga migor tak menunjukkan tanda-tanda akan turun. Dia merasa keberatan dengan kenaikan tersebut lantaran migor merupakan salah satu komoditas utama dalam rumah tangga.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar pada November 2021 terjadi inflasi sebesar 0,23 persen atau terjadi peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 107,32 pada Oktober 2021 menjadi 107,56 pada November 2021. Komoditas minyak goreng menyumbang inflasi tertinggi pada bulan tersebut. 

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kalbar, Heronimus Hero, mengatakan kenaikan harga minyak goreng tak lain karena pengaruh kenaikan harga Tanda Buah Sawit (TBS), CPO dan industri kemasan plastik. Dalam penanganan inflasi, pihaknya berupaya melakukan intervensi pasar agar minyak goreng tak memberikan andil inflasi yang besar.

“Kami ada gelar pangan murah termasuk minyak goreng. Bahkan di outlet Toko Tani Indonesia Center tersedia setiap hari dengan harga yg lebih murah dari pasar. Untuk cegah inflasi,” katanya. (sti)