Kasus kekerasan terhadap anak mengalami peningkatan sebanyak 52 persen sepanjang tahun 2020 hingga 2021. Kasus-kasus tersebut didominasi oleh kejahatan seksual terhadap anak, prostitusi online, perbudakan seks, eksploitasi ekonomi dan lainnya.

Hal itu diungkapkan Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Indonesia, Arist Merdeka Sirait saat peresmian Gedung Ruang Pelayanan Khusus (RPK) Perlindungan Perempuan dan Anak Ditreskrimum Polda Kalbar, Selasa (14/12) pagi. Dikatakan Arist, jumlah kasus kekerasan dan pelanggaran terhadap anak terus mengalami peningkatan. Jika tidak diantisipasi maka jumlahnya akan terus meningkat. 

“Tentu kita akan kewalahan untuk menanganinya. Belum lagi jika bicara tentang perbudakan seks melalui media online. Tidak sedikit anak-anak terjebak di sana, dengan seolah-olah apa yang dia rasakan adalah hal biasa saja. Saya berharap kejahatan seksual bisa diantisipasi lebih dini,” ungkap Arist seperti diberitakan pontianakpost.co.id

Menurutnya, peningkatan jumlah kasus secara nasional didominasi oleh kejahatan seksual, termasuk di Kalbar. Hadirnya RPK Perlindungan Perempuan dan Anak ini menjadi salah satu kesempatan untuk melindungi korban, bukan saja perempuan tetapi  anak-anak. Karena saat ini anak-anak menjadi sasaran untuk prostitusi.

Berdasarkan data, kasus kekerasan seksual yang ditangani Polda Kalbar sepanjang tahun 2020 tercatat 389 kasus. Sedangkan di tahun 2021 sebanyak 346 kasus.

Ini harus harus diantisipasi. Bagaimana kita membendung agar anak-anak tidak menjadi korban kejahatan seksual, trafficking dan lainnya. Konteksnya perempuan. Kasus prostitusi dialami oleh perempuan dan tidak sedikit dari mereka yang masih di bawah umur, 14 tahun atau setingkat SMP,” kata Arist.

Oleh karena itu, pihaknya menyambut baik pembangunan Gedung RPK oleh Ditreskrimum Polda Kalbar. Fasilitas ini diharapkan dapat memberikan perlindungan kepada perempuan dan anak. (arf)