Didapuknya Kampung Nelayan di tepian Sungai Kapuas di Jalan Yusuf Karim, Kelurahan Banjar Serasan, Kecamatan Pontianak Timur dipandang Wali Kota (Wako) Pontianak Edi Rusdi Kamtono sudah tepat. Ia pun ingin, ke depannya kawasan ini bisa menjadi ciri khas kampung nelayan tepian sungai.

Edi melihat, tepian Sungai Kapuas memiliki banyak potensi, baik dari sisi ekonomi maupun kepariwisataannya. Didapuknya Kampung Nelayan dinilai dia sebagai sesuatu yang tepat. “Sebab kawasan di sini sudah miliki keramba ikan dan kelompok nelayannya,” kata dia.

Dengan dicanangkannya Kampung Nelayan ini, dia berkeinginan menjadikan kawasan sekitar sebagai kampung bertemakan kehidupan nelayan tepian sungai. Dia mengusulkan agar dilengkapi pasar nelayan, rumah makan, dan restoran yang menyediakan menu makanan hasil tangkapan nelayan dari sungai maupun laut seperti ikan, udang, dan lainnya. “Tentunya dengan berkembangnya Kampung Nelayan bakal menjadi destinasi pusat rekreasi dan kuliner baru di Kota Pontianak,” ujarnya. 

Ia menambahkan, pencanangan ini sebagai awal permulaan semangat untuk mewujudkan kawasan ini sebagai Kampung Nelayan. Ke depan, seiring waktu kampung nelayan ini diharap dia bisa memberi dampak yang besar dalam meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. “Kita juga akan bangun dermaga untuk mendukung fasilitas Kampung Nelayan ini,” katanya diberitakan pontianakpost.co.id.

Kepala Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Pontianak, Bintoro mengungkapkan, di Kelurahan Banjar Serasan ini sudah dibentuk lima kelompok nelayan. Ke depan jumlah kapal di Kampung Nelayan akan mereka tambah. 

“Sekarang sudah ada 17 kapal dengan total nelayan 56 orang, sehingga ini bisa kita optimalkan,” tuturnya. Keberadaan kelompok nelayan ini memang sudah ada, namun pembinaannya masih sangat minim. Oleh sebab itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak hadir untuk memberikan dukungan dan bantuan kepada para nelayan tersebut. “Kita berikan bantuan berupa life jacket atau rompi keselamatan, radio komunikasi, GPS untuk pendeteksi ikan, kotak pendingin atau cool box untuk menyimpan ikan serta bantuan beras masing-masing 20 kilogram,” imbuhnya. 

Camat Pontianak Timur Ismail menuturkan, keberadaan Kampung Nelayan ini diharapkan mengakomodir apa yang menjadi kebutuhan nelayan. Kawasan ini, diakui dia, memang dari dulu hingga kini dikenal dengan penduduknya yang bermatapencaharian dari profesi nelayan. Kelompok nelayan, budidaya perikanan, dan kelompok pengelolaan hasil perikanan, menurut dia, juga sudah ada sejak dulu.

“Tentu dampaknya tidak hanya untuk masyarakat Banjar Serasan tetapi untuk kawasan-kawasan lain di Kecamatan Pontianak Timur bahkan Kota Pontianak,” ungkapnya.

Namun disayangkan dia, meski kawasan itu dikenal dengan banyaknya nelayan, tetapi warga sekitar tidak bisa menikmati ikan segar. Sebab, menurut dia, mekanismenya, ikan dan hasil tangkapan nelayan itu langsung dijual ke agen yang berada di luar kawasan tersebut. “Masyarakat di sini mengharapkan adanya tempat pelelangan ikan atau pasar ikan, sehingga ikan hasil tangkapan nelayan tersebut bisa dipasarkan langsung ke masyarakat sekitar,” imbuh Ismail.

Ketua Panitia Pencanangan Kampung Nelayan Banjar Serasan, Hasmi menerangkan, kehadiran dermaga bagi warga sekitar yang umumnya berprofesi nelayan sangat dibutuhkan sebagai daya dukung kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya. “Jadi keberadaan kampung nelayan ini untuk menyokong perekonomian warga sekitar dengan berbasis perikanan budidaya, tambak, keramba, dan pengelolaan hasil perikanan atau usaha-usaha yang berkaitan dengan sarana prasarana perikanan lainnya,” paparnya.

Dia menyebut kawasan dan wilayah Banjar Serasan sudah selayaknya dijadikan Kampung Nelayan. Dia beralasan lantaran wilayahnya berada di dekat tepian Sungai Kapuas. Alasan lain diungkapkan dia lantaran sebagian masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan tangkap, baik yang mempunyai tambak maupun keramba ikan dan punya usaha pemrosesan ikan. “Nah, hal ini merupakan potensi yang sangat besar di bidang perikanan dan menjadi ciri khas dari suatu kawasan kampung nelayan,” tutupnya. (iza)