Berbagai alasan melatarbelakangi lanjut usia (lansia) tetap bekerja. Mulai dari keharusan untuk memenuhi kebutuhan hidup, hingga keinginannya untuk tetap bekerja lantaran masih kuat secara fisik. Survey BPS menyebut, satu dari dua lansia masih aktif bekerja. 

SITI SULBIYAH, Pontianak

Di bawah terik matahari pagi, seorang wanita terlihat begitu gigih menarik sebuah gerobak sampah. Langkahnya terhenti saat melihat ada sampah yang bisa diangkut ke dalam bak terbuka tersebut. Sesekali ia juga berhenti saat hendak menyeka keringat.

“Macam-macam lah yang diangkut, seng, kardus, plastik, pokoknya yang nanti bisa dijual ke pengepul,” kata wanita itu kepada Pontianak Post, Sabtu (28/5).

Wanita itu bernama Bunari. Usianya kini 70 tahun. Tinggalnya di Siantan, Kecamatan Pontianak Utara. Wilayah kerjanya di Jalan Purnama, Kecamatan Pontianak Selatan. Dengan menarik gerobak, sehari-hari Bunari mencari sampah-sampah di sekitar Jalan Purnama. Sampah-sampah itu nanti akan ditukarkan ke tempat penampungan sampah di Jalan Purnama II. “Kadang dapat Rp30 ribu kadang Rp20 ribu,” ujarnya.

Bekerja bagi Bunari adalah sebuah keharusan. Sebab, kalau tidak bekerja, tidak ada uang untuk membeli makanan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bunari punya empat orang anak. Tiga di antaranya sudah menikah. Meski anak-anaknya sudah bekerja, namun Bunari tidak bisa menggantungkan hidup dari keempat anaknya itu. Keadaan ekonomi menuntutnya untuk tetap bekerja.

Pekerjaan mencari sampah telah dilakoninya tujuh tahun terakhir. Ia berangkat dari rumah pukul empat pagi. Selesai pukul 12 siang. Sang anak bertugas mengantar dan menjemputnya setiap hari. “Bangun jam 3 pagi itu masak dulu. Setelah itu kerja sampai siang sekitar jam 12 pulang,” katanya.

Bekerja di usia senja juga dilakoni oleh Bacok. Kakek berusia 80 tahun itu bekerja sebagai tukang sol sepatu. Ia biasanya mangkal di jalan Gusti Hamzah, Pontianak Kota.

Tepat di sebuah ruko yang menjual pulsa di jalan itu, Bacok biasa menunggu para pelanggannya. Di sana ia bisa berteduh dari panasnya sinar matahari. Namun tak ada plang yang menunjukkan bahwa ia menerima jasa sol sepatu.

“Kalau pelanggan lama biasanya sudah tahu,” ucap Bacok.

Bekerja sebagai tukang sol sudah dilakoninya selama lebih dari 40 tahun. Lokasinya berpindah-pindah. Adapun di Jalan Gusti Hamzah, jasa sol sepatu sudah dilewati sekitar empat tahun.

Bacok tinggal di Kalimas, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. Setiap hari ia berangkat pukul enam pagi. Sang anak yang mengantarnya dengan menggunakan sepeda motor. Pulangnya sekitar pukul 10 pagi. “Anak antar jam enam, lalu pergi ke pasar. Nanti pas pulang dari pasar jemput lagi jam 10,” ucapnya.

Penglihatannya masih cukup baik untuk menjahit sol sepatu maupun sandal. Untuk menjahit sepasang sepatu, biaya yang dikenakan Rp50 ribu. Dalam satu hari, hanya ada satu atau dua pelanggan yang datang. Bahkan juga pernah tidak ada sama sekali.  “Selama masih kuat ya lebih baik bekerja,” pungkasnya.

Sebagian orang mungkin menghabiskan masa tuanya dengan memilih tetap bekerja. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia menyebutkan bahwa lanjut usia (lansia) potensial adalah penduduk lanjut usia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang dan/atau jasa. Dengan kata lain, lansia potensial adalah lansia yang bekerja. 

Jumlah lansia di Kalimantan barat (Kalbar) dari tahun ke tahun terus mengalami kenaikan. Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar dalam surveynya mencatat, terjadi peningkatan persentase penduduk lanjut usia atau lansia (60 tahun ke atas). Persentase penduduk lansia Kalbar meningkat menjadi 8,12 persen di tahun 2020 dari 5,88 persen pada 2010 berdasarkan hasil SP2010. 

Baca Juga :  Sekjen Kemenkes Vaksinasi Lansia di Mempawah

BPS dalam kajiannya berjudul ‘Statistik Penduduk Lanjut Usia 2021’ mencatat, secara nasional pada tahun 2021, sekitar satu dari dua (49,46 persen) lansia masih aktif bekerja. Lapangan usaha pertanian menjadi sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja lansia, yaitu sebesar 53,10 persen. Sekitar enam dari sepuluh lansia bekerja sebagai pemilik usaha, baik yang berusaha sendiri (31,34 persen), berusaha dibantu buruh tidak dibayar (30,76 persen), maupun dibantu buruh dibayar (4,23 persen). Sebanyak 86,02 persen lansia bekerja di sektor informal, yang menjadikannya rentan karena tidak memiliki perlindungan ketenagakerjaan, kontrak pekerjaan, maupun imbalan yang layak. 

Masih dari kajian yang sama, jika dilihat dari kondisi ekonominya, lansia lebih terdistribusi pada status ekonomi rendah. Pada tahun 2021, sebanyak 43,29 persen lansia berada pada kelompok pengeluaran 40 persen terbawah dan 19,31 persen pada kelompok pengeluaran 20 persen teratas. Sekitar sembilan dari sepuluh (92,77 persen) lansia telah tinggal di rumah milik sendiri atau milik anggota rumah tangga yang tinggal bersamanya. Akan tetapi, masih ada sebanyak 36,56 persen lansia yang tinggal di rumah tidak layak huni. 

Berbagai alasan melatarbelakangi lansia tetap bekerja, di antaranya karena keharusan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tidak adanya non-labor income seperti jaminan pensiun, menuntut lansia untuk tetap bekerja. Di Kalbar, kajian BPS menyebut terdapat 45,12 persen lansia yang masih bekerja. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata nasional sebesar 49,46 persen. Sisanya, sebanyak 31,70 persen lansia di Kalbar mengurus rumah tangga, 0,92 persen pengangguran, dan 22,26 persen adalah aktivitas lainnya. (sti)