Jajaran Polres Bengkayang, Kalimantan Barat mengamankan pelaku persetubuhan anak di bawah umur. Celakanya, pelaku adalah guru dari korban tersebut. Saat ini, pelaku sudah diamankan di Polres Bengkayang guna mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kasat Reskrim Polres Bengkayang, AKP Sagi menjelaskan, pelaku merupakan seorang guru honorer disebuah sekolah swasta di Bengkayang. “Diketahui Pelaku yang berinisial L (32) yang sudah kita amankan telah melakukan tindakan asusila terhadap siswanya yang berusia masih di bawah umur (17),” ujar AKP Sagi kepada awak media, Senin (6/6).

Sagi turut membeberkan kronologis tersebut yang awalnya tersangka berkenalan dengan korban, hingga mereka pacaran. Setelah sekian lama berpacaran, pelaku merayu korban untuk pergi ke sebuah tempat di Jawai, Kabupaten Sambas tanggal 27 April 2022. Korban lantas mengiyakan ajakan tersebut. Namun setelah dijemput, pelaku mengingkari janjinya, lalu korban dibawa ke salah satu sekretariat tempat ia tinggal. Saat itu, kata Sagi, kondisi sudah sepi sekira pukul 11 malam, dan korban pun di bawa ke kamar pelaku.

 

“Pelaku dan korban sempat mengobrol, dan korban dibawa masuk ke kamarnya. Saat itu, korban sempat meminta agar dia diantar pulang. Namun pelaku tidak mau dan terus merayu si korban. Pelaku kemudian melakukan hal yang tak senonoh pada korban, hingga terjadi hubungan suami istri. Dan diinapkan di kantornya beberapa hari,” jelasnya. Tak cukup sekali ternyata nafsu itu dilampiaskan. Tak lama setelah hari pertama persetubuhan, tanggal 2 Mei, pelaku kembali membujuk rayu si korban. L berjanji akan bertanggung jawab dengan apapun yang terjadi nanti. Terjadilah persetubuhan layaknya suami istri untuk kedua kalinya.

Si L masih minta lebih. Sejak tanggal 2 hingga 10 Mei, mereka tinggal bersama-sama. Dari hasil penyidikan pelaku melakukan persetubuhan terhadap korban sebanyak sembilan kali. Siswi menuru karena iming-iming akan dinikahi oleh sang guru. Sagi melanjutkan, pada tanggal 11 Mei siangnya, korban baru pulang ke rumah kakak kandungnya di wilayah Kecamatan Bengkayang.

Lama tak pulang, si adik ditanya oleh sang kakak. Ia lalu menceritakan kejadian tersebut sembari menangis. Terang saja kakak korban tak terima atas aksi bejat pelaku. “Mendengarkan hal tersebut kakak korban langsung berkoordinasi dengan pihak keluarga untuk meminta pertanggungjawaban dari pelaku. Namun tak ada niat baik dari pelaku. Pihak keluarga akhirnya melayangkan laporan ke unit PPA Satreskrim Polres Bengkayang,” jelasnya.

Atas perbuatannya, berdasarkan UU perlindungan anak tahun 2002 pelaku/tersangka yang masih aktif mengajar tersebut terancam pidana maksimal 15 tahun penjara. Atas kejadian ini, Sagi juga menyampaikan, unit PPA Satreskrim Polres Bengkayang pada semester tahun 2022 ini sudah menangani setidaknya ada lima kasus serupa. Ia juga berpesan agar para orang tua lebih menjaga dan mengontrol anak-anaknya.

“Jika ada menemukan kasus serupa jangan takut dan jangan segan untuk segera dilaporkan ke unit PPA Polres Bengkayang, untuk segera ditindaklanjuti,” pungkasnya.  (sig)