Anak di bawah umur berusia 10 tahun, di Kabupaten Kayong Utara  Kalimantan Barat, kembali menjadi korban dugaan tindakan pencabulan oleh pelaku berusia 40 tahun. Mengenai hal ini, Komisi Perlindugan Anak Daerah (KPAD) Kayong Utara melakukan pendampingan terhadap korban maupun saksi selama kasus tersebut dalam penanganan pihak kepolisian.

Komisioner Komisi Perlindugan Anak Daerah (KPAD) Kayong Utara, Kalimantan Barat Warjani, S.Sos membenarkan mengenai peristiwa tersebut. Untuk kasus ini kata dia, masih dalam penanganan pihak kepolisian, dalam hal ini Polres Kayong Utara.

Warjani menambahkan, KPAD Kayong Utara melakukan pendampingan, baik kepada korban maupun saksi dari proses pemeriksaan, pemulihan di lingkungan masyarakat, hingga perisidangan. 

“Kami Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Kayong Utara sebagai lembaga non pemerintahan yang independen selalu mengutamakan hak-hak anak. Kami telah melakukan pendampingan kepada korban dan saksi anak dari proses pemeriksaan, visum, persidangan, hingga pemulihan di lingkungan masyarakat,” terangnya kepada Pontianak Post, Selasa (7/6).

Atas peristiwa ini, tentunya ia menyayangkan kembali terjadi, apalagi korban berusia 10 tahun. Bahkan lanjut dia, kasus seperti ini tidak jarang pelaku merupakan orang dekat korban.

“Kami menyayangkan kasus seperti ini terjadi lagi kepada anak. Untuk kedapannya kami akan lebih gencar untuk melakukan sosialisasi ke desa-desa dan ke sekolah. Agar masalah seperti ini tidak terulang kembali. Kasus seperti ini juga sering terjadi dengan pelaku bukan orang jauh, tetapi orang terdekat di lingkungan kita,” katanya.

Dijelaskan dia, mengenai kronologi kejadian, korban saat itu sedang mancing tidak jauh dari permukiman warga bersama rekan-rekan korban. Pelaku datang ke lokasi menemui korban dan teman-temannya.

Selang beberapa waktu kemudian, pelaku meminta kepada temen-temen korban untuk pergi membeli mata pancing dan umpan. Setelah temen-temen korban pergi, pelaku pun langsung melakukan aksi bejatnya.

“Diduga melakukan pencabulan anak usia 10 tahun. Bermula pada saat tiga orang anak, satu perempuan sebagai korban dan dua orang sebagai saksi. Mereka mancing di belakang rumah yang terdapat kolam. Saat itu pelaku datang dengan modus menyuruh anak untuk membeli mata pancing dan umpan. Pada saat itu hanya ada pelaku dan korban, pelaku langsung memaksa korban untuk berhubungan badan di semak-semak,” kata dia.

Sementara, mengenai kasus ini lanjut dia, dalam penanganan pihak kepolisian, dengan mengumpulkan sejumlah bukti pendukung lainnya. Dirinya pun berharap kepada pelaku agar dapat dikenakan sanksi setimpal, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

“Untuk kasus ini masih dalam proses penyelidikan dan pemeriksaan kepolisian, dan mengumpulkan bukti-bukti pendukung. Kami berharap kasus ini segera terselesaikan, untuk pelaku akan mendapatkan hukuman atau vonis yang setimpal atas perbuatanya,” jelasnya.

“Kasus pemerkosaan anak tidak ada kata maaf, karena jika ditoleransi akan menciptakan predator-predator baru yang akan merusak masa depan anak,” tegasnya. (dan)