Beberapa tahun ini, jamak dilihat anak-anak menenteng keranjang berisi dagangan. Para anak di bawah umur ini mencari rizki. Target pangsa pasarnya di warung kopi dan taman-taman yang ramai dikunjungi masyarakat. Apa alasan hingga mereka memutuskan mencari rezeki diusia belia?

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

 

 

PELUH keringat dua orang anak mengayuh sepeda. Membawa keranjang berisi kue-kue kampung. Dalam isi keranjang masih setumpuk kue. Hari ini sedikit yang laku. Padahal hari sudah siang.

Mereka berdua memutuskan untuk istirahat. Tak jauh dari Taman Akcaya, di Kecamatan Pontianak Selatan, keduanya duduk sebentar. Membeli sebotol air. Menghilangkan dahaga. Tak lama, ada orang baik datang. Mungkin iba melihat kedua anak itu. Kemudian, diajaklah mereka berdua menyantap mi ayam. Rizki tak dikira. Kedua anak itu tampak lahap makan. Tak sampai 20 menit, mi ayam pun habis.

Usut punya usut, kedua bocah itu bertempat tinggal di Siantan, Kecamatan Pontianak Utara. Jarak yang jauh bagi anak-anak tersebut hingga sampai ke Taman Akcaya. Apalagi tujuannya buat mengadu nasib. Mencari rizki berjualan kue, buatan sang ibu.

Kue-kue kampung ini ia jajak menggunakan sepeda. Setiap hari. Apalagi saat sekolah tengah libur. Tujuan marketnya di warung-warung kopi dan area taman. Hari itu, ia menjual kue tersebut hingga ke kawasan Kota Baru Ujung.

Di Taman Akcaya, ia putuskan berhenti sejenak. Sebab agak lelah mengengkol sepeda. Kuenya juga masih banyak bersisa. Kadang kue-kue yang tak laku ini disedekahkan. Berjualan kue sudah menjadi kebiasaan. Kue-kue ini dibuat oleh ibunya. Inisiatif sendiri, ingin membantu mencari uang. Ia pun mengaku masih sekolah.

Meski masih belia, ia rela membagi waktu bermainnya untuk berjualan kue. Baginya itu tak masalah. Uang hasil jualan yang ia dapat. Bisa diberi kepada ibu. Sebagian juga ditabung. Pantauan Pontianak Post, melihat anak-anak menenteng keranjang berisikan kue sudah menjadi hal jamak di Kota Pontianak. Dari informasi yang digali beberapa anak, rerata mereka masih bersekolah. Dari kasat mata, tak ada keterpaksaan dari anak-anak ini berjualan.

Kebanyakan dari penjelasannya, mereka berjualan buat membantu orang tua. Jika kuenya habis, mereka dapat cuan. Besarannya mulai dari Rp5 ribu. Tergantung dari jumlah kue yang dibawanya.

Kepala Dinas Sosial Pontianak Darmanelly prihatin melihat hal tersebut. Menurutnya, ini salah satu fenomena kemiskinan. Kalau dilihat dari sisi aturan, menjajakam kue di jalan juga melanggar Peraturan Daerah Kota Pontianak dan melanggar Undang-Undang Ketenagakerjaan. “Ada beberapa syarat anak boleh bekerja. Tetap sekolah dan tidak mengganggu kesehatan. Umur di atas 15 tahun dan hanya 3 jam,” ungkapnya.

Menurutnya, menyelesaikan kemiskinan bukan hal mudah. Pemkot Pontianak saat ini terus berupaya mengatasinya, melalaui Tim Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan. Selain itu, banyak OPD dan pihak lain terlibat dengan leading sector di Bappeda.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menyebut, keluarga merupakan wahana utama yang memberikan pengasuhan, perawatan, dan bimbingan kepada anak. Dia menilai, seorang anak mampu menjadi agen perubahan jika sedari dini sudah dididik secara baik. “Di dalam pemenuhan kebutuhan anak, keluarga menjadi kunci,” ujarnya usai evaluasi KLA oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) melalui zoom meeting, di Ruang Pontive Center, belum lama ini.

Edi menyampaikan, Kota Pontianak sudah mengikuti evaluasi Kota Layak Anak (KLA) sejak 2009. Pada selang waktu itu, Kota Pontianak pernah menerima KLA dengan predikat Pratama dan Nindya. “Tapi komitmen kita untuk terus meningkatkan predikat KLA menjadi yang terbaik, namun dalam prosesnya kami berharap bimbingan dari Pemerintah Provinsi dan Kementerian terkait serta kolaborasi setiap pihak,” ungkapnya.

Segenap upaya telah pihaknya lakukan, mulai dari pemenuhan regulasi dengan menerbitkan beberapa Peraturan Daerah (Perda), Peraturan Wali Kota (Perwa), sampai Surat Keputusan tentang KLA. Peraturan yang sudah mereka terbitkan tersebut akan terus mereka sempurnakan

“Juga melibatkan seluruh OPD dalam menunjang pemenuhan kebutuhan anak. Selanjutnya pula kita menjalin kerja sama dengan BUMN, BUMD dan pihak swasta demi terwujudnya KLA,” ucap dia.

Tak hanya itu, Edi mengatakan, perlunya pengawasan terhadap regulasi yang telah ditentukan. Dia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pengawasan hingga pelaksanaannya. “Tentu kita juga memberikan informasi yang objektif dalam proses monitoring tersebut,” tutupnya.

Ketua Gugus Tugas KLA Kota Pontianak, Hidayati memaparkan, terkait regulasi KLA, sudah diterbitkan enam Perwa dan sebelas SK. Selain itu, mereka juga membentuk pula rencana aksi guna mewujudkan KLA. Dia menjelaskan, beberapa kegiatan dilakukan untuk mendapatkan predikat terbaik.

“Ada kegiatan, menyiapkan komunikasi informasi dan edukasi di berbagai media massa, media sosial dan media cetak,” terangnya.

Peran lembaga terkait juga dianggap Hidayati sebagai upaya tercapainya KLA. Dia menggambarkan, lembaga seperti Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK) yang membawahi masalah anak dan perempuan. Selain itu, pihaknya juga menjalin MoU dengan Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi).

“Kita juga melibatkan dunia usaha, kita minta fasilitas umum seperti hotel, tempat belanja dan restoran untuk menyediakan tempat bermain anak. Ada juga CSR mendukung kegiatan, seperti Posyandu dan lainnya,” pungkasnya. (*)