Minggu ketiga Juni setiap tahunnya diperingati sejumlah negara sebagai Hari Ayah (Father’s Day). Dalam edisi ini, Pontianak Post mencoba mengulas kisah para ayah yang harus mempertahankan keberlangsungan hidup rumah tangganya, setelah harus kehilangan pekerjaan lantaran dihantam badai pandemi sejak Maret 2020 lalu.

ARIEF NUGROHO, Pontianak

PANDEMI Covid-19 berdampak pada kerusakan ekonomi sekala besar. Dalam waktu singkat, jutaan orang kehilangan pekerjaan. Satu di antaraya adalah Hendro, ayah tiga orang anak ini harus bertahan hidup menjadi seorang badut jalanan, paska-PHK yang dialaminya 2020 lalu.

Peluh keringatnya bercucuran di badan, belum lagi napasnya yang mulai tersengal karena seluruh tubuh mulai dari kepala hingga kaki tertutup dengan kustom.

Ketika matahari mulai redup di sore hari, Hendro alias Een, warga Kota Pontianak ini sudah bersiap mengenakan kostum robot Bamble Bee, yakni figur robot yang bisa merubah bentuk menjadi mobil dalam film animasi Transformers.

Selepas Ashar, Een berangkat dari rumah membawa tas besar berisi kostum. Ia lalu menganti pakaiannya dengan kostum robotnya. Mulai dari kaki, badan, tangan, dan penutup kepala hingga wajah. Seperti biasa, ia beraksi di pinggir jalan Sutan Syahrir Pontianak, tepatnya di sekitar kompleks Rumah Melayu Kalbar.

Dengan membawa keranjang yang sudah dimodifikasi, ia mulai beraksi. Gerakannya mirip robot sungguhan. Sesekali ia menyapa pengguna jalan, pengendara sepeda motor, maupun pengendara mobil.

Een juga tidak segan manakala diajak berfoto bersama. Bahkan dia selalu melayani dengan ramah. Terutama oleh anak-anak. Ia juga tidak jarang mengajak berjabat tangan hingga mencium tangan orang yang mengajaknya berfoto.

Pekerjaan menjadi pengamen sudah dia lakoni sejak setahun lalu. Tepatnya setelah ia di-PHK dari perusahaan tempatnya bekerja akibat pandemi Covid-19. Sejak itu, ia tidak memiliki pekerjaan tetap. Bahkan ia sempat menjadi buruh bangunan untuk menghidupi istri dan tiga orang anaknya yang masih kecil.

“Saya mengamen begini sudah setahun. Setelah di-PHK karena pandemi Covid-19,” ujar Een ditemui Pontianak Post, belum lama ini. Kostum robot miliknya tersebut ia beli dari pamannya di Jawa, dengan cara mencicil. “Kostum dari paman. Saya beli dengan cara mencicil,” terangnya.

Dari menjadi pengamen berkostum robot itu, setiap harinya, ia bisa membawa pulang uang antara Rp160 ribu hingga Rp200 ribu. “Tapi kalau lagi sepi ya paling-paling Rp60 ribu,” bebernya. “Alhamdulillah masih diberi rizki. Apa yang didapat hari ini disyukuri saja. Yang penting semua keluarga sehat,” sambungnya.

Selain Een, ada Mardian. Ia bersama putrinya yang masih berusia 7 tahun terpaksa harus menjadi badut jalanan. Mardian bukan warga asli Pontianak. Ia bersama putrinya datang dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, sejak 2 bulan lalu.

Pekerjaan sebagai badut jalanan sudah ia lakoni sejak beberapa bulan terakhir, setelah tidak lagi memiliki pekerjaan tetap. Ia kemudian memutuskan untuk mengadu nasib di Pontianak. “Saya coba-coba saja ke sini, karena di Banjarmasin tidak ada lagi pekerjaan,” kata Mardian saat ditemui Pontianak Post belum lama ini.

Sebelum menjadi badut, Mardian mengaku sempat bekerja sebagai buruh bangunan di Banjarmasin. Namun, karena pandemi Covid, ia pun akhirnya alih profesi sebagai badut jalanan, dan merantau ke Pontianak. Mardian terpaksa membawa serta putri bungsunya yang masih berusia 7 tahun untuk bekerja sebagai badut.

“Mau gimana lagi, tidak ada yang menjaga. Kalau saya tinggal di kost sendiri juga kasian,” beber Mardian. Selama di Pontianak, ia tinggal di rumah indekos di sekitaran Jalan Pancasila. Dalam sehari, Madian bisa membawa pulang uang kurang lebih Rp150 ribu. “Kadang-kadang Rp150 ribu. Kadang juga lebih,” katanya.

Kepala Dinas Sosial Kota Pontianak Darmanelly mengakui bahwa keberadaan badut jalanan menjadi fenomena baru di Kota Pontianak, terutama sejak pandemi Covid-19. Untuk itu, pihaknya terus melakukan pendataan terhadap jumlah gepeng (gelandangan dan pengemis), pemulung,  termasuk di antaranya adalah badut jalanan yang ada di Kota Pontianak.

“Tahun ini Dinas Sosial sedang mengumpulkan data. Berapa jumlah pengemis, pemulung, dan pengamen. Apakah dari Pontianak atau bukan? Jika bukan asli Pontianak, mereka akan dipulangkan ke daerah asal, sedangkan yang asli Pontianak akan dilakukan pembinaan,” kata Darmanelly, saat dihubungi Pontianak Post.

Menurutnya, pendataan ini penting dilakukan, karena menurut dia, tidak sedikit pengamen maupun pengemis yang ada di Kota Pontianak merupakan asli warga Pontianak, melainkan ada yang berasal dari luar kota maupun luar provinsi. (*)