Ratusan kantong darah di PMI Kota Pontianak terinfeksi penyakit menular, seperti Hepatitis B dan C, bahkan HIV dan sipilis. Hal itu diketahui setelah pihak PMI melakukan screening terhadap kantong darah tersebut.

“Saat ini PMI memiliki alat yang canggih, yang mampu men-screening darah yang terinidikasi terinfeksi penyakit,” ujar Lusi Nuryanti, sekertaris PMI Kota Pontianak, saat dikonfirmasi Pontianak Post, Senin (20/6). Darah yang telah terinfeksi tidak bisa digunakan untuk tranfusi dan harus dimusnahkan.

Menurut Lusi, berdasarkan data PMI Kota Pontianak tahun 2021, setidaknya ada 23.567 kantong darah yang dimusnahkan. Pemusnahan itu dilakukan karena gagal pengambilan sebanyak 206 kantong, reaktif IMLTD (Infeksi Menular Melalui Trasfusi Darah) sebanyak 499 kantong, dan sisanya plasma kedaluwarsa.

“Darah yang dimusnahkan termasuk yang reaksinya greyzone (zona abu-abu) untuk masing-masing pemeriksaan,” kata Lusi. Menurut dia, dari 499 kantong darah yang reaktif IMLTD tersebut, penyakit paling banyak adalah Hepatitis B. Ada pula beberapa penyakit menular lain, seperti HIV dan Sipilis.

“Kami sudah lakukan pengulangan pemeriksaan sebanyak dua kali, dan hasilnya reaktif. Darah yang mendekati rekatif ini tidak bisa diberikan kepada pasien,” jelasnya.

Menurut dia, saat ini PMI Kota Pontianak akan terus memperketat proses screening terhadap pendonor yang akan menyumbangkan darahnya. Rangkaian prosedur pemeriksaan yang telah ditentukan akan diterapkan dengan disiplin agar menghasilkan darah yang sehat.

Di sisi lain, Lusi menyebutkan saat ini tren pendonor di Kota Pontianak cenderung mengalami kenaikan. Bahkan stok darah di PMI Pontianak relatif cukup memadai. “Kalaupun ada kekurangan, tidak begitu banyak,” pungkasnya. (arf)