Pembacokan satu keluarga di Jl Sungai Selamat, Siantan, Jumat (17/6) meninggalkan tanda tanya bagi korban. Pontianak Post menyambangi ruang perawatan korban di RS St Antonius untuk mendengar penuturan korban atas petaka yang terjadi.

Derita yang dialami Sui Khiang sekeluarga cukup parah. Paling mengenaskan adalah si bungsu, Karen (7 tahun). Sampai kini gadis kecil ini masih belum sadarkan diri lantaran luka bacok di kepala dan wajahnya.

“Tapi tadi siang mulai ada gerak-gerik, dan wajahnya mulau menunjukkan raut. Mohon doanya semoga anak saya segera sadarkan diri,” kata dia, Selasa (21/6). 

Sementara sang abang, Jonathan (9 tahun) terbaring lemas di kamar perawatan. Dia mendapatkan luka sabetan di wajah. Namun yang paling memilukan, si bocah harus kehilangan jari tengah dan jari manis pada tangan kanannya. Jemari itu putus dipotong pelaku. Kendati sudah sadarkan diri, kepada ayah-ibunya dia terus mengeluhkan bagaimana nasibnya kelak di sekolah.

“Dia takut nanti di sekolah dibuli teman-temannya,” sebut ayahnda. Adapun Sui Khiang mengalami luka di wajahnya. Sementara istrinya mendapat luka bacok di kepala. Namun luka fisik tersebut masih dibalut dengan rasa penasaran terhadap motif pelaku, yaitu FT (58 tahun). Pelaku adalah tetanggannya sendiri. Rumah mereka masih dalam satu pekarangan. Istri pelaku dan istri Sui Khiang juga masih saudara sepupu.

“Selama ini kami tidak ada pernah ada masalah atau cekcok dengan pelaku. Memang kami tidak terlalu akrab. Tapi kalau berpapasan, saya pasti menyapa. Hubungan juga baik. Makanya kami terkejut sekali bisa ada kejadian seperti ini,” sebut dia. “Kalau benar pelaku sakit hati, mengapa bisa begitu tega membacok anak-anak saya yang masih kecil,” sambung Sui Khiang.

Dia juga menyangkal alasan FT yang mengaku sakit hati karena dituduh mencuri ayam milik korban. Menurutnya, hal ini yang menurutnya tidak masuk akal. “Bagaimana mungkin saya menuduh dia mencuri ternak ayam, sementara saya sendiri tidak pelihara ayam. Boleh dicek ke tetangga kami yang lain. Memang kami tidak akrab, tetapi memang saya merasa tidak ada konflik sebelumnya dengan pelaku,” tutur dia.

Kejadiah nahas tersebut berlangsung sore sekira jam setengah empat nan sepi. Kawasan di lokasi peristiwa memang sunyi pada jam-jam tersebut, lantaran mayoritas warga berkerja sebgai petani dan masih berada di kebun masing-masing. Apalagi rumah-rumah di sana jaraknya berjauhan khas daerah pertanian.

Seperti biasa, jam segitu, Jonathan dan Karen tengah asyik bermain di halaman rumah. Namun tetiba, FT dari rumahnya, memegang parang pemotong daging langsung menuju ke kedua korban. Dia membabi buta membacok kakak beradik yang tak berdaya ini. Tak puas, pelaku lalu menuju rumah Sui Khiang. Korban selanjutnya adalah istri Sui Khiang, yang mendapat sabetan di kepala.

Sui Khiang yang mendengar ada keributan segera menuju suara. Betapa terkejutnya dia melihat pelaku sedang mengarahkan parang ke arah istrinya. Dia lalu meneriaki pelaku. FT lalu mengubah sasarannya ke Sui Khiang dan mengenai kepalanya. Namun bacokan berikutnya gagal lantaran Sui Khiang menangkap tangan korban dan mendorong pelaku ke dinding.

Kendati kepala Sui Khiang bocor dan mengucurkan darah, ia masih bisa memiting pelaku dan menyeretnya ke luar rumah, sembari berteriak memanggil tetangga yang lain. Di halaman dia lemas melihat kedua anaknya tergeletak berlumuran darah. Tetangga yang mendengar lantas berdatangan membawa para korban ke rumah sakit. Beruntung nyawa mereka masih terselematkan. Sementara FT kini kini ditahan di sel Polsek Pontianak Utara untuk menjalani proses hukum selanjutnya. Dia terancam dijerat Pasal 351 juncto Pasal 80 ayat 2 KUHP tentang penganiayaan.

Istri pelaku yang masih memiliki hubungan saudara dengan korban sendiri sudah datang menjenguk ke rumah sakit. Dia meminta maaf atas kejadian yang terjadi. “Saya bilang, saya maafkan dan jangan merasa bersalah. Karena ini memang murni perbuatan pribadi pelaku. Kami sendiri menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada hukum yang berlaku hingga ke pengadilan. Semoga ada hukuman yang setimpal,” pungkas Sui Khiang.

 (ars)