Menyeberang langsung dari Pelabuhan Lembar di Lombok Barat ke Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi memang lebih efisien secara ongkos ketimbang melalui Bali, apalagi jika langsung Surabaya. Tapi, kebersihan sejumlah kapalnya dikeluhkan.

 

HABIBUL ADNAN, Lombok Barat

 

LINTASAN penyeberangan Lembar di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat ke Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, atau sebaliknya mulai dibuka pada Desember 2020. Pembukaan jalur baru penyeberangan laut itu merupakan bagian dari program "tol laut" yang dicanangkan Pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Jelang dua tahun berjalan, Manajer Usaha PT ASDP Cabang Lembar Rahim mengatakan, ada enam kapal punya izin operasi. "Saat ini lima kapal, karena satu ada perawatan," jelasnya.

Dari lima kapal yang beroperasi secara reguler itu, sehari melayani tiga kali penyeberangan. Masing-masing pukul 08.00, 16.00, dan pukul 00.00. "Jadwal ditentukan BPTD (Balai Pengelola Transportasi Darat)," kata Rahim.

Dia menerangkan, sejak pertama kali dibuka, belum ada penambahan kapal maupun trip. Sebab, lima kapal itu dinilai masih bisa menyelesaikan pengangkutan penumpang dan logistik, baik dari Lombok maupun sebaliknya. Mengenai pertumbuhan penumpang, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, ada peningkatan jumlah.

"Tapi ini tidak bisa jadi ukuran, karena dua tahun itukan pandemi Covid-19. Saat ketat, penumpang akan turun. Sekarang ini untuk logistik ada pertumbuhan," tambah Rahim.

Koordinator Satpel Pelabuhan Lembar Nelson Dallo menambahkan, jumlah penumpang belum ada peningkatan signifikan. Dia memperkirakan, ini karena masyarakat punya banyak pilihan rute penyeberangan. Selain Lembar-Ketapang, ada juga pelayaran dari Pelabuhan Gili Mas di Lembar yang langsung ke Pelabuhan Tanjung Wangi, Kalipuro, Banyuwangi.

Pantauan Lombok Post, pada pemberangkatan kapal dari Pelabuhan Lembar menggunakan Ferry Jambo X pada Sabtu (17/9) pagi, hanya enam truk dan satu unit kendaraan alat berat yang diangkut. Kemudian ada lima penumpang pejalan kaki yang masuk ke kapal. Tidak ada pengguna mobil pribadi maupun roda dua.

Saharbini, salah seorang petugas Satpel Pelabuhan, mengatakan, belakangan ini tidak pernah ramai penumpang dari Pelabuhan Lembar-Ketapang. "Hari-hari libur nasional baru terlihat ramai, kalau sekarang kayak gini sudah," terangnya.

Jumain, salah satu sopir truk asal Mojokerto, mengatakan, dia tidak selalu memilih lintasan penyeberangan Lembar-Ketapang atau sebaliknya. Tergantung tujuan dan muatan. Kadang lewat Padang Bai di Bali dulu. "Dituntut mana yang lebih cepat. Kalau muatan agak ringan, lewat sini," katanya.

Tapi, jika muatan berat, dia kadang langsung ke Surabaya melalui Pelabuhan Tanjung Perak. Tetapi jika menghitung biaya dan waktu, lebih efesien dari Lembar-Ketapang. "Langsung Surabaya lebih mahal, apalagi sekarang naik hampir dua kali lipat," ujar Jumain.

Rama, penumpang yang lain, mengatakan, penyeberangan Lembar-Ketapang kadang kurang maksimal dari sisi pelayanan di kapal. Beberapa kali dia menemukan kapal dengan kebersihan di bawah standar. "Mungkin perlu memperhatikan masalah kebersihan," katanya.

Rama ketika ditemui Lombok Post sedang memesan tiket untuk penyeberangan hari ini (19/9). Meski demikian ada juga yang kebersihannya bagus. "Kalau disuruh milih, paling pas Ketapang-Lembar," katanya tentang beberapa pilihan jika hendak bertujuan ke Jawa.

Selisih biaya dari Lembar-Padang Bai beda tipis, sekitar 50 ribu. Sementara jika langsung ke Pelabuhan Tanjung Perak, malah berbeda jauh. "Setelah saya lihat harga tiket, bedanya hampir dua kali lipat.

Perjalanan ke Surabaya juga lebih lama. Bisa memakan waktu 20 sampai 24 jam. Sedangkan Lembar-Ketapang rata-rata 12 jam. "Mungkin perlu ditambah trip," tutupnya saat ditanya harapannya. (*/ttg)